h1

Tantangan dan Peluang Pendidikan Islam di Era Globalisasi

6 April 2010

Oleh Yulizal Yunus[1]

I.    PENDAHULUAN

Dalam masyarakat yang sedang berubah dalam menguatnya pengaruh global, harapan yang lebih besar agar pendidikan lebih maju mentransfer pengetahuan yang dapat menjadi self guidance dan mencerdaskan kehidupan bangsa, mempunyai kemampuan merubah tantangan jadi peluang membangun peradaban bangsa dan dunia, unggul, mempunyai daya saing serta tidak terperangkap dalam pengaruh negatif perubahan global itu.

Topik makalah yang ditawarkan ini menaruh tiga variable penting, pertama “pendidikan Islam”, kedua lingstra (lingkungan strategis) pendidikan itu “era global”, ketiga “peluang dan tantang” pendidikan Islam di era ini. Ketiga variable ini menaruh isu menarik dikaji dalam merumuskan pemikiran bagaimana memajukan pendidikan Islam di era global ini.

Isu penting dalam “pendidikan Islam” di era global sekarang muncul sejalan dengan isu masyarakat yang sedang dan terus berubah. Di antaranya timbul tuntunan masyarakat di era modern dan zaman teknologi canggih ini terhadap penguatan sistim pendidikan. Semua sistim pendidikan dituntut harus lebih maju dan dapat mengakomadasikan kebutuhan masyarakat modern, tidak saja tuntutan terhadap peningkatan kualitas kurikulum tetapi juga tuntutan dalam kemajuan memfasilitasi pendidik, peserta didik, manajemen, sarana dan prasarana pendidikan dsb. Penyertaan teknologi cangkit sudah menjadi kemestian, agar dapat mengikuti perkembangan. Sementara lingkungan pendidikan (keluarga, masyarakat dan sekolah) sering kalah cepat berubah dibanding perubahan global yang demikian cepat dan menantang. Kalau tantangan itu tidak bisa dirubah menjadi peluang justru berbalik menjadi hambatan karena terjebak dengan konflik-konflik dan pengaruh-pengaruh negative global dan teknologi canggih mengambil bentuk dalam kehidupan termasuk di lingkungan sekolah.

Globalisasi sebagai lingkungan strategis pendidikan Islam, isu pentingnya masih didominasi triple-t (3-t) era global yakni telekomunkasi, transportasi dan tourism. Ketiganya bebasis informasi dan teknologi modern dan amat berpengaruh merubah sendi-sendi kehidupan. Dengan kemajuan telekomunikasi dan teknologinya yang canggih, dunia menjadi tidak ada batas mengantarkan berbagai pengaruh global tanpa ada hambatan ruang dan waktu. Dengan  kemajuan transportasi dengan teknologinya yang canggih dunia menjadi menjadi kecil, jarak menjadi pendek tidak saja lintas daerah malah lintas dunia. Demikian pula dengan kemajuan tourism dengan teknologi dan sajian yang tersedia di destinasi, menarik pengunjung dunia dating dengan berbagai latar pendidikan dan kebudayaan bangsa mereka. Pengaruh yang dibawa kemajuan telekomunikasi, transportasi dan tourism tadi akan menjadi arus deras pengaruh global menantang “arus dalam” (nilai agama, adat budaya lokal) yang ditransformasikan pendidikan (formal dan in/ non formal) selama ini. Iman bisa menjadi longgar. Adat bisa menjadi dianggap kolot, budaya bisa tercerabut dari akarnya yang semula menjadi identitas bangsa. Betapa tidak, dengan kemajuan ilmu dan teknologi tadi, di lingkungan sekolah saja misalnya, berpengaruh pada sistim pendidikan. Pendidik misalnya bisa kehilangan zuhud, karena kebutuhan bertambah, gaji kecil maka terpaksa berfikir mencari penghasilan tambahan yang pada gilirannya motivasi mengajar sebagai tugas mulia melemah dan kinerja menjadi turun. Demikian pula para pelajar, karena tergoda kemajuan teknologi, bertambah tuntutan biayanya di samping untuk sekolah, yang semula hanya belanja pergi/ pulang sekolah di samping kebutuhan SPP dan buku serta peralatan tulis lainnya, sepertinya wajib memiliki HP mewah yang kadang lebih wah dari HP orang tuanya yang eselon-I dan atau pegawai tinggi negara dan atau eksekutif sukses. Efeknya pun lebih dahsat, kalau penggunaannya tidak tepat, HP bisa mengganggu konsentrasi belajar siswa, di samping gangguan teknologi media canggih lainnya seperti face books, blogg, game on line dan situs-situs internet lainnya.

Isu lain tantangan dan peluang era global terhadap pendidikan, dapat dilihat dari perspektif analisis SWOT (Strenghts, Weaknesses, Opportunities, Treaths). Sebenarnya kemajuan yang dibawa triple-t globalisasi yang berbasis ilmu, informasi dan teknologi modern tadi sebenarnya menantang untuk maju baik kemajuan di lingkungan keluarga, masyarakat maupun lingkungan sekolah. Namun ketika tantangan itu tidak bisa dirubah menjadi peluang misalnya memajukan sistim pendidikan (kurikulum, pendidik, peserta didik, manajemen, sarana dan prasarana, lingkungan pendidikan dll), maka ketika itu pula tantangan berubah menjadi kendala, hambatan bahkan menjadi ancaman. Betapa banyak lingkungan keluarga, masyarakat dan sekolah/ pendidikan mengalami bangkrut didera ancaman pengaruh buruk global, karena tidak mampu merubah tantangan kemanjuan ilmu, informasi dan teknologi menjadi peluang untuk lebih maju, unggul dan punya daya saing.

II.     MASALAH

Permasalahan penting dan menarik dipecahkan dalam melihat “tantangan dan peluang pendidikan Islam di era Global” setidaknya dua persoalan yang mendasar dilihat dari perspektif analisis SWOT yakni:

  1. Bagaimana memanfaatkan potensi untuk meraih peluang (SO) dan memanfaatkan potensi untuk menghadapi ancaman tantangan (ST) pendidikan Islam di era global?
  2. Bagaimana mengatasi kelemahan untuk meraih peluang (WO) dan memenimalkan kelemahan untuk bertahan dari ancaman (WT) pendidikan Islam di era global?

III.    PEMBAHASAN

Strengths/ potensi meraih opportunities/ peluang (SO) atau strengths/ potensi menghadapi treaths/ tantangan (ST) mendapat porsi yang sama dengan upaya mengatasi weaknesses/ kelemahan meraih opportunities/ peluang (WO) atau mengatasi weaknesses/ kelemanah menghadapi treaths/ tantangan (WT), menarik dalam menganalisis pendidikan Islam di era global.  Analisis ini dilakukan dengan alur pikir dengan skema sbb.:

A. SO-ST Pendidikan Islam di Era Global

Pendidikan Islam dari perspektif esensi pengajaran mempunyai keunggulan, karena di dalamnya terdapat pengajaran umum plus agama. Pendekatan keagamaan memberikan posisi strategis bagi pendidikan Islam mendidik generasi muda masyarakat Islam dalam menumbuhkembangkan potensi-potensi bawaan, baik bawaan jasmani maupun rohani sejalan dengan norm yang tumbuh, kembang dan dipakai dalam masyarakat dan kebudayaannya. Baik pendidikan Islam itu berakar dari pemaknaan tarbiyah, ta’lim, tahdzib, maupun ta’dib dll., tetap saja mempunyai substansi pemberiaan ilmu pengetahuan dan pengembangan keseluruhan potensi diri manusia, baik potensi bawaan sesuai dengan fitrahnya maupun potensi yang wujud dan berubah karena berbagai faktor pengaruh lingkungan, sekaligus pembentukan kepribadian, prilaku (budaya) dan sikap mental. Karenanya beralasan Akmal Hawi (2005:159) menyebut bahwa pendidikan Islam merupakan proses bimbingan pengembangan jasmani dan rohani manusia dengan ajaran Islam sejalan dengan fitrah manusia itu agar mereka mampu melaksanakan tugas dan kewajiban sesuai dengan tujuan hidupnya diciptakan khaliq-Nya.

Pendapat tadi merupakan penguatan pengakuan terhadap dasar pendidikan Islam itu sendiri yakni al-Qur’an dan Hadis, karena dua sumber dasarnya ini menekankan pendidikan itu sesuai fitrah kearah tujuan tertinggi yakni insan kamil (manusia sempurna). Meskipun pendidikan Islam mengadopsi nilai-nilai sosial kemasyarakatan, syah saja selama tidak bertentangan dengan dasar-dasarnya di al-Qur’an dan Hadis dan bermanfaat atau tidak memberikan kemudharatan bagi manusia. Berkenaan dengan perinsip ini, pendidikan Islam menjadi jelas dapat diletakkan dalam kerangka sosiologis, selain menjadi sarana transmisi pewarisan kekayaan sosial budaya dalam pembentuk prilaku yang positif.

Karena pendidikan Islam itu juga berada dalam kerangka sosiologis, maka lingkungan strategis situasi perkembangan sosial budaya dan teknologi modern baik tingkat internasional (global), maupun regional, nasional dan lokal berpengaruh pada perjalanan dan menjalankan sistem pendidikan itu. Sungguh pun demikian dengan potensi pendidikan Islam yang ada dimanfaatkan akan dapat merebut peluang dan menghadapi tantangan dan atau merubah tantangan menjadi peluang di dalam semua tingkatan lingkungan strategis itu termasuk di era global dalam lingkungan strategis internasional.

Pendidikan Islam dalam lingkungan strategis nasional (Indonesia) secara objektif mempunyai potensi besar dimanfaatkan untuk meraih peluang maju. Di antara potensi besar pendidikan Islam itu:

  1. Masyarakat pendukung pendidikan Islam, umat Islam dominant dan panatik terhadap pendidik Islam tinggi
  2. Pengalaman besar dan sudah lama masanya eksis secara mandiri
  3. Lembaga pendidikan Islam beragam bentuk dan banyak jumlahnya
  4. SDM para pakar dan menejer pendidikan Islam banyak
  5. Sudah mempunyai sistim yang kuat
  6. Ada Departemen khusus memayunginya yakni Depatemen Agama

Potensi pendidikan Islam ini sebenarnya dapat dimanfaatkan sebagai kekuatan, untuk meraih peluang. Peluang-peluang cukup banyak dan besar. Di lingstra nasional Indonesia pendidikan Islam, mempunyai peluang di antaranya:

  1. Akreditasi kelembagaan pendidikan
  2. Standardisasi kelulusan
  3. Sertifikasi guru/ pendidik
  4. Anggaran pendidikan besar
  5. Mendapat kedudukan yang sama dalam kebijakan nasional dalam bidang pendidikan

Peluang pendidikan Islam dalam lingstra Internasional dilihat dari perkembangan triple-t globalisasi (telekomunikasi, transportasi dan tourism) cukup banyak. Diambil contoh t-telekomunikasi dengan perkembangan teknologinya memberikan peluang pengembangan sistim manajemen dan informasi (SIM) pendidikan diperkuat dengan local area network (LAN) berbasis webs yang dapat diakses di mana dan kapan saja. Lembaga-lembaga pendidikan dengan manajemen pendidikan sekolah modern dapat dipersiapkan dengan didukung information, communication and technology (ICT) yang menggunakan teknologi media canggih, mulai dari perangkat keras (computer, tv, radio, telepon seluler) dengan perangkat lunaknya dalam bentuk segala bentuk system dan network system canggih dengan situs-situs yang dapat diakses. Impactnya dengan dukungan teknologi komunikasi baik perangkat keras dan perangkat lunaknya tadi, kelembagaan pendidikan akan berpeluang melakukan pembaharuan dengan kunci komunikasi dan informasi yang mudah diakses dan mengakses dari sumber mana, dimana dan kapan saja.

Pemanfaatan potensi besarnya jumlah umat Islam, pengalaman dalam mengembangkan pendidikan secara mandiri, kekuatan lembaga-lembaga pendidikan Islam yang sudah maju, pendayagunaan para pakar dan menejer pendidikan Islam yang cukup banyak, mengembangkan sistim pendidikan yang sudah mendapat pengakuan, memaksimalkan fungsi Departemen Agama dalam pengembangan pendidikan, dipastikan peluang-peluang peningkatan kemajuan pendidikan Islam dapat direbut. Tidak akan sulit mengembangkan kelembagaan pendidikan Islam terakreditasi menuju lembaga pendidikan maju bertaraf internasional, peluang anggaran akan terbuka, apalagi kedudukan pendidikan agama sudah sama dengan pendidikan umum dari perspektif kebijakan pendidikan nasional, standarisasi kelulusan memberikan jaminan kualitas ketenagaan yang siap akses pangsa pasar kerja, karenanya pendidik/ guru terakreditasi dalam upaya mengejar kualitas dan pemenuhan kesejahteraan dan terbuka pembentukan prilaku zuhud pada guru. Optimisme pemanfaatan potensi merebut peluang globalisasi di awal milenium ketiga ini, akan semakin nyata menjadi kekuatan dalam peningkatan pendidikan Islam itu, apalagi ada momentum dukung dengan situasi umat Islam, sejak awal abad ke-15 hijrah dicanangkan sebagai abad kebangkitan dan dinyatakan sebagai awal survival umat Islam (Yulizal Yunus, 1979).

Sayidiman Suryohadiprojo (2002) menulis, kebangkitan Islam itu merupakan proses penuh perubahan yang dilakukan umat Islam untuk mewujudkan kehidupan yang maju dan sejahtera setingkat dengan umat manusia lainnya yang sudah lebih dahulu mencapai kondisi demikian . Dengan perkataan lain, umat Islam kembali membentuk peradaban yang setingkat dengan peradaban lainnya.

Peradaban itu secara esensial memperlihatkan kehidupan yang penuh nilai spiritual dan material.  Nilai spiritual dan material itu kata Sayidiman (2002) dapat menjadi ukuran bagi tinggi rendahnya peradaban itu. Sebab itu umat Islam membangun kehidupan spiritual dan moral sesuai dengan ajaran Islam termasuk melalui lembaga pendidikan untuk menjadi pemicu bagi seluruh kehidupan umat Islam yang bermakna. Di pihak lain diwujudkan pula perubahan dalam kondisi material umat Islam untuk menciptakan kesejahteraan. Semakin tinggi hasil pembangunan moral-spiritual dan material itu semakin tercipta peradaban Islam.

B. WO-WT Pendidikan Islam di Era Global

Perjuangan memanfaatkan potensi merebut peluang dan atau menggunakan potensi untuk mengatasi tantangan mendukung gerakan survival umat dalam kebangkitan Islam termasuk memajukan pendidikan Islam, tak luput dari berbagai tantangan yang kadang tidak saja bias menjadi kendala, hambatan bahkan menjadi bias ancaman yang seringkali amat berbahaya dan merugikan.

Tantangan khusus pendidikan Islam dalam lingstra Internasional dilihat dari triple-t globalisasi (telekomunikasi, transportasi dan tourism) tadi, cukup menarik. Dari sisi triple telekomunikasi saja misalnya, terdapat tantangan di antaranya:

  1. Informasi terbuka dan bebas masuk melalui teknologi media canggih tanpa hambatan ruang dan waktu.
  2. Komunikasi canggih memperkecil dunia, mulai dari lintas kota – desa, daerah – nasional, nasional – internasional dan lintas benua.
  3. Tersedia situs pencari inforamsi dan media penghubung komunikasi dalam bentuk perangkat lunak segala bentuk sistim jaringan (face books, e-mail, blogg, webset dll).
  4. Tersedia teknologi informasi dan media elektronik dan cetak canggih perangkat keras seperti personal computer dan jaringan, offset, camera webs, telpon seluler, jaringan televise, DVD dsb.
  5. Tumbuh bisnis informasi dan komunikasi dengan teknologi yang siap layan dengan mudah dan murah serta memenuhi kebutuhan konsumen, dll.

Tantanan triple telekomunikasi ini saja, sudah sedemikian hebat kalau dapat dirubah menjadi peluang. Kemampuan mendayagunakan potensi besarnya dukungan jumlah umat Islam, pengalaman dalam mengembangkan pendidikan secara mandiri, kekuatan lembaga-lembaga pendidikan Islam yang sudah maju, pendayagunaan para pakar dan menejer pendidikan Islam yang cukup banyak, mengembangkan sistim pendidikan yang sudah mendapat pengakuan, memaksimalkan fungsi Departemen Agama dalam pengembangan pendidikan, dipastikan tantangan triple telekomunikasi era global tadi dapat dirubah menjadi peluang dan kesempatan emas dalam upaya peningkatan kemajuan pendidikan Islam. Dengan pendayagunaan potensi ini dengan mengakomodasikan tantangan (1) informasi global terbuka dan bebas masuk melalui teknologi media canggih tanpa hambatan ruang dan waktu, (2) komunikasi canggih memperkecil dunia, mulai dari lintas kota – desa, daerah – nasional, nasional – internasional dan lintas benua, (3) tersedia situs pencari inforamsi dan media penghubung komunikasi dalam bentuk perangkat lunak segala bentuk sistim jaringan (face books, e-mail, blogg, webset dll), (4) tersedia teknologi informasi dan media elektronik dan cetak canggih perangkat keras seperti personal computer dan jaringan, offset, camera webs, telpon seluler, jaringan televise, DVD dsb., (5) tumbuh bisnis informasi dan komunikasi dengan teknologi yang siap layan dengan mudah dan murah serta memenuhi kebutuhan konsumen, dll., optimis tantangan gloal ini dapat dirubah menjadi peluang besar mengatasi kelemahan pendidikan Islam dengan memperkuat perencanaan dan implementasinya didukung. Tantangan global itu berpotensi besar pula menyulap penyelenggaraan pendidikan Islam dengan memperkuat dengan basis informasi dan komunikasi baik dengan perangkat keras teknologinya maupun perangkat lunaknya yang amat canggih, sehingga mengantarkan lembaga-lembaga pendidikan, pendidik dan kualitas peserta didik dan outputnya ke level yang setara dengan pendidikan maju di dunia internasional.

Sebagai sebuah analisis perkembangan pendidikan di era global, disadari tidak semua perjuangan mulus, dipastikan tantangan terkadang menjadi kendala, hambatan bahkan menjadi ancaman. Ketidaksiapan menyambut kemajuan teknologi informasi dan komunikasi era global tadi akan melahirkan dan memunculkan pengaruh negative. Itu terjadi manakala kelemahan tidak dapat diminimalisir maka tantangan akan berubah menjadi ancaman. Kelemahan itu masih ada yang bersumber dari internal umat Islam sendiri plus tantangan yang datang dari luar dengan arus keras.

Perjuangan yang harus digerakan menangkap dan atau merubah tantangan menjadi peluang pendidikan Islam di era globalisasi, bagaimana para penyelenggara pendidikan itu mampu di samping mendayagunakan potensi yang ada untuk merebut peluang dan atau mengurangi kelemahan untuk merebut peluang, atau mengolah potensi mengatasi tantangan, dan atau memenimalisir kelemahan untuk menangkal ancaman dari tantangan yang tidak bisa dirubah. Semua umat Islam yang memperjuangkan kebangkitan Islam harus berjuang terus menerus tanpa pamrih. Umat Islam di Indonesia yang jumlahnya lebih dari 170 juta orang adalah potensi besar sekaligus asset bangsa bagi kebangkitan Islam termasuk kebangkitan lembaga pendidikan Islam sekaligus asset pertumbuhan bangsa Indonesia. Akan tetapi sebalik kalau kelemahan tidak bisa dimanimalisir dan tetap dalam taraf tidak kuat dan berkualitas, meminjam istilah Sayidiman (2002) justru menjadi satu liability atau gangguan yang amat berat. Sebab itu umat Islam Indonesia dan terutama para pemimpinnya harus mengembangkan komitmen yang sekuat-kuatnya untuk menyelenggarakan pendidikan dengan sebaik-baiknya. Pendidikan mempunyai peran besar sekali untuk menimbulkan perubahan pada diri umat Islam. Melalui pendidikan dapat dibentuk kondisi mental yang lebih kondusif untuk mengembangkan kebangkitan moral-spiritual yang dikehendaki. Justru tujuan pendidikan Islam tidak hanya mentransfer ilmu pengetahuan, mengkuti Ramayulis (2006:10) identik dengan penyelenggaraan tugas kenabian yakni mempertinggi akhlak. Aspek transfer dan penguasaan ilmu pengetahuan dan teknologi dapat diusahakan melalui pelaksanaan pendidikan yang tepat. Sungguh pun demikian harus pula disadari bahwa hasil dari proses pendidikan baru terasa secara sungguh-sungguh setelah berlalunya satu generasi. Oleh karena Kebangkitan Islam sekarang sudah berjalan maka pendidikan harus dibarengi dengan terbentuknya tradisi leadership yang dapat menjalankan proses perubahan tersebut sejak sekarang. Bahkan leadership (kepemimpinan) itu sangat penting untuk menimbulkan proses sistim pendidikan yang diselenggarakan.

Disadari proses pendidikan meliputi banyak segi. Sebenarnya setiap kegiatan manusia mengandung unsur pendidikan. Ada pendidikan meliputi sistem sekolah dan pendidikan luar sekolah. Dua bentuk pendidikan dari perspektif kewilayahan sebenarnya saling mendukung untuk mencapai hasil yang optimal tujuan pendidikan. Dalam pendidikan luar sekolah yang amat besar perannya adalah pendidikan di lingkungan keluarga di samping pendidikan di lingkungan masyarakat dan atau pendidikan formal terbuka (sekolah tebuka). Sebab di lingkungan keluarga manusia lahir dan di dalam keluarga dan masyarakat manusia tumbuh di masa yang paling menentukan bagi pembentukan kepribadiannya. Di era global ini bagi pendidikan keluarga di mana orang tua diharapkan berperan dan pendidikan masyarakat diharapkan piminan informal berperan memberi kontrol serta pendidikan sekolah formal diharapkan guru dan pemerintah berpean banyak, karena tantangan informasi dan teknologi canggih bagaimana dapat dirubah menjadi peluang dan dengan potensi yang ada meminimalisir kelemahan untuk menangkal ancaman tantangan yang tidak dapat dirubah menjadi peluang dan atau tantangan yang berubah menjadi dampak negatif.

Era Globalisasi justru dapat membuat setiap unsur masyarakat makin intensif hubungannya dengan unsur dan komunitas bahkan sampai lintas dunia. Hubungan yang penuh dengan interaksi akan menciptakan peluang kerjasama dan atau persaingan yang kadang kala dapat memacu kemajuan dan kadang kala berdampak ancaman kea rah kemunduran. Karenanya kualitas SDM amat dibutuhkan di samping kemampuan mengeksplisit experience sebagian masyarakat yang sudah maju untuk memajukan umat dan bangsa Islam termasuk pendidikan di dalamnya. Saat itu pula muncul tantangan, pendidikan ada harus berkualitad dan besar di dukung oleh seluruh komunitas umat dan komponen warga masyarakat. SDM juga harus didukung oleh sumber daya sosial dan modal (sumber daya uang maupun sumber daya material) lainnya. Sumber daya ini akan memberi dukungan meminimalisir kelemahan selama ini untuk menghadapi tantangan kuat terhadap kemampuan manajemen pendidikan, pelaksanaan komitmen yang kuat pada kepemimpinan umat, bangsa dan kelembagaan pendidikan yang ada.

Kepemimpinan umat yang mampu memanfaatkan potensi merebut peluang, mengahadapi tantangan dan mengurangi kelemahan merebut peluang dan meminimalisir kelemaham menangkal tantangan yang berpotensi jadi ancaman, amat diperlukan pula pada pendidikan formal. Ada langkah maju dimulai dari pendidikan dasar sebaiknya meliputi masa persekolahan 2 tahun di Taman Kanak-Kanak (TK) dan 6 tahun di Sekolah Dasar (SD). Pendidikan dasar membentuk landasan bagi perkembangan anak dalam segala segi kehidupannya. Dewasa ini di Indonesia tingkat pendidikan diatur sedemikian rupa dalam kebijakan pendidikan nasional dan berlaku sama dengan pendidikan agama. Pengaturan tingkatannya meliputi pendidikan pra-sekolah seperti TK, pendidikan dasar mulai dari Sekolah Dasar sampai Sekolah Menengah Pertama (SMP) 3 tahun termasuk SMA/ SMK sederajat diatur UU no. 2 Th. 1989 tentang Pendidikan Nasional.

Tingkatan pendidikan itu berlaku sama dengan sistim pendidikan Islam yang dipayungi Departemen Agama, mulai dari pra sekolah yakni madrasah ibtidaiyah (MI), pendidikan menengaha MTS dan MA. Namun dikaitkan dengan penyelenggaraan pendidikan tinggi di Indonesia dewasa ini menghadapi tantangan besar. Lulusan madrasah yang memadai berpeluang ke PT umum, mempersempit peluang ke PT agama. Permasalahan itu sebenarnya mulai dari pra sekolah baik formal, in/non formal. Pendidikan di lingkungan keluarga masih belum optimal merebut peluang dan mengatasi tantangan. Pendidikan dasar dan menengah negeri/ swasta kalau ada yang sudah bermutu, namun jumlahnya masih terbatas. Lulusannya belum optimal menghasilkan lulusan yang memadai untuk melanjutkan ke pendidikan tinggi yang membutuhkan wawasan dan kualifikasi yang standard. Apalagi sistem madrasah belum menghasilkan banyak lulusan seperti juga sebagian lulusan pendidikan umum. Akibatnya banyak mahasiswa, kinerja belajar saja sulit diharapkan sebagai student today and leader tomorrow dan siap bersaing dengan keunggulannya di abad ini dalam era global yang serba menjanjikan dengan janji yang menantang: anatra peluang dan ancaman. Karenanya pendidikan tinggi tidak terlepas dari keharusan bekerjan keras meningkatkan kualitas kinerja proses untuk mengangkat mutu kelembagaan dan masyarakat akademiknya, berangkat dari kondisi objektifnya kea rah kondisi ideal yang diinginkan.

Dari kondisi objektif menuju kondisi yang diinginkan di tingkat pendidikan tinggi seperti yang pernah penulis rumuskan untuk Fakultas Adab IAIN Imam Bonjol (2003), disadaarkan kondisi itu tidak terlepas dari pengaruhi lingkungan strategis. Lingkungan strategis (lingstra) yang berpengaruh itu mulai dari (1) Situasi di level dunia internasional dengan esensi globalnya, (2) Regional dan sub regional serta ASEAN+3 (cina, jepang dan korea), sampai ke (3) Situasi Nasional dan (4) Daerah dalam era otonomi daerah.

Dalam perkembangan strategis ini, pendidikan tinggi sebenarnya mempunyai peluang besar untuk melakukan aksi yang beskala internasional, regional, nasional di samping daerah dan lokal. Untuk kasus Fakultas Adab (sastra, bahasa, sejarah dan seni) saja misalnya, ada trend boom seni Islam misalnya, Fakultas Adab berpeluang ke dunia Melayu Islam terutama Malaysia dan Brunei di samping Timur Tengah yang sejak dahulu terlah memberikan respon. Peluang besar itu adalah melakukan studi, penelitian, pengabdian, temu karya dosen/ mahasiswa sastra – sejarah dan seni kaligrafi juga PAD, dan diikat dalam sebuah payung LoI.

Tantangannyanya adalah kemampuan para leader dan menejer pendididikan menguasai informasi dan teknologi canggih akses/ mengakses dunia luar dan kemampuan daya tawar dan kemampuan mengorganisir wadah yang berpotensi untuk itu. Sebenarnya dalam contoh kasusistik faktor ini pula sebenarnya yang menghambat perkembangan IAIN Imam Bonjol yang menelantarkannya dalam kondisi sekarang. Penggambaran analisis peluang dan tantangan era gloal ini akan lebih jelas dilihat dari sisi analisis SWOT sebagaimana diskema sbb.:

Strength Opportunity lahirkani kebijakan publik, pok dosen sastra, konsorsium

(Potensi)   (Peluang)

Weakness Threatment daya tawar, info, moment, event, arah PBM, kompetensi lulusan

(Kelemahan)    (Kendala – ATHG/ Ancaman, Tantangan, Hambatan dan Gangguan)

Tantangan itu justru berhadapan dengan kelemahan yang masih mewabah belum matangnya data base dosen yang menunjuk kelompok kompetensi bidang keilmuan dosen serta pengalaman sejalan bakat minat yang dimilikinya. Ini baru tantangan bagi lembaga pendidikan Islam, belum lagi lembaga pendidikan yang mengajarkan Islam tidak sedikit pula tantangan yang dihadapi di era global ini. Pendidikan yang mengajarakan ilmu-ilmu agama Islam dalam prosesnya sering lebih rumit dari lembaga-lembaga pendidikan Islam mulai dari pra sekolah (MI) dan menengah (MTS-MA)/ pesantren sampai ke pendidikan tinggi Islam (universitas, institute, sekolah tinggi, akademi, diploma dsb) yang menanamkan nilai-nilai fundamental Islam. Sedangkan sebagian peserta didik khusus di lembaga pendidikan Islam amat banyak terpengaruh dengan dampak negatif teknologi modern menawarkan informasi dan komunikasi bebas lintas benua, lintas negara, menerobos sebagai pelosok perkampungan di pedesaan dan menyelusup di gang-gang sempit di perkotaan, melalui media audio, audio visual, termasuk sekarang yang lagi trend face books dengan kegiatan komunikasi langsung disebut chatting serta telepon seluler dengan kegiatan SMSnya. Semua tawaran yang siap saji dan layan itu menghipnotis bahkan menawan banyak para peserta didik, dan dengan fenomena salah guna teknologi canggih itu berdampak negatif dalam bentuk wujud budaya tak peduli/ pengabaian keseriusan belajar.

Sementara di sisi lain, seperti dicatat kandidat doktor Islamic Studies, Jamia Millia University, New Delhi, Fatih Syuhud (2008), di era globalisasi) ini, pendidikan Islam dihadapkan kepada berbagai macam persoalan yang semakin erat. Sementara di hadapannya, dunia sosial masyarakat sedang diterpa krisis moralitas. Melalui media massa dan elektronik dapat diperoleh informasi mengenai berbagai gejala dekadensi moral yang akhir-akhir ini sering terjadi, khususnya di kota-kota besar.

Mengikuti Irsjad dan Hawi (2007), Fatih (2008) mencatat fenomena global itu punya gejala yang sama terjadi dalam dunia pendidikan yang ditandai dengan maraknya tawuran, kekerasan antar pelajar, bahkan penyalahgunaan obat-obat terlarang”. Kecenderungan tersebut tampaknya merupakan fenomena yang terkait dengan ketidakmampuan lembaga pendidikan dalam memperkuat kelembagaan nilai-nilai Islam bagi kehidupan individual dan sosial, sehingga manusia mengalami keterasingan, yang makin lama makin mendorongnya kepada hilangnya orientasi kemanusiaan. Merespon fenomena ini, diperlukan sikap menghadapi peradaban modern, dengan persoalan-persoalan umum internal pendidikan Islam yaitu (1) persoalan dikotomik, (2) tujuan dan fungsi lembaga pendidikan Islam, (3) persoalan kurikulum atau materi.

Ketiga persoalan ini saling interdependensi antara satu dengan lainnya. Pertama, persoalan dikotomik pendidikan Islam, yang merupakan persoalan lama yang belum terselesaikan sampai sekarang. Pendidikan Islam harus menuju pada integritas antara ilmu agama dan ilmu umum untuk tidak melahirkan jurang pemisah antara ilmu agama dan ilmu bukan agama. Karena, dalam pandangan seorang Muslim, ilmu pengetahuan adalah satu yaitu yang berasal dari Allah SWT. Kedua, Fatih menguatkan Yasin (1985) perlu pemikiran kembali tujuan dan fungsi lembaga-lembaga pendidikan Islam yang ada. Memang diakui bahwa penyesuaian lembaga-lembaga pendidikan akhir-akhir ini cukup mengemberikan, artinya lembaga-lembaga pendidikan memenuhi keinginan untuk menjadikan lembaga-lembaga tersebut sebagai tempat untuk mempelajari ilmu umum dan ilmu agama serta keterampilan. Tetapi pada kenyataannya penyesuaian tersebut lebih merupakan peniruan dengan pola tambal sulam atau dengan kata lain mengadopsi model yang dilakukan oleh lembaga-lembaga pendidikan umum, artinya ada perasaan harga diri bahwa apa yang bisa dilakukan oleh lembaga-lembaga pendidikan umum dapat juga dilakukan oleh lembaga-lembaga pendidikan agama, sehingga akibatnya beban kurikulum yang terlalu banyak dan
cukup berat dan terjadi tumpang tindih. Sebenarnya lembaga-lembaga pendidikan
Islam harus memilih satu di antara dua fungsi, apakah mendesain model
pendidikan umum Islami yang handal dan mampu bersaing dengan lembaga-lembaga
pendidikan yang lain, atau mengkhususkan pada desain pendidikan keagamaan yang
berkualitas, mampu bersaing dan mampu mempersiapkan mujtahid-mujtahid yang
berkualitas. Ketiga, persoalan kurikulum atau materi Pendidikan Islam, materi pendidikan Islam “terlalu dominasi masalah-maslah yang bersifat normatif, ritual dan eskatologis. Materi disampaikan dengan semangat ortodoksi kegamaan, suatu cara di mana peserta didik dipaksa tunduk pada suatu “meta narasi” yang ada, tanpa diberi peluang untuk melakukan telaah
secara kritis. Pendidikan Islam tidak fungsional dalam kehidupan sehari-hari,
kecuali hanya sedikit aktivitas verbal dan formal untuk menghabiskan materi
atau kurikulum yang telah diprogramkan dengan batas waktu yang telah ditentukan.

Banyak kelemahan pada pendidikan Islam yang menyertai tantangan era globalisasi, namun juga banyak peluang bisa direbut dengan mengolah potensi yang ada sekaligus mengatasi dan meminimalisir kelemahan yang ada. Secara contoh ekplisit dalam bentuk matrik dapat ditawarkan dalam perspektif analisis SWOT, dalam tabel SO-ST dan WO-WT sbb.:

Eksternal/ Internal

Opportunities (Peluang)

  1. Akreditasi kelembagaan pendidikan
  2. Standardisasi kelulusan
  3. Sertifikasi guru/ pendidik
  4. Anggaran besar untuk pendidikan
Treaths (Kendala – ATHG)1. Informasi terbuka dan bebas masuk melalui teknologi media canggih tanpa hambatan ruang dan waktu.

2. Komunikasi canggih memperkecil dunia, mulai dari lintas kota – desa, daerah – nasional, nasional – internasional dan lintas benua.

3. Tersedia situs pencari inforamsi dan media penghubung komunikasi dalam bentuk perangkat lunak segala bentuk sistim jaringan (face books, e-mail, blogg, webset dll).

4. Tersedia teknologi informasi dan media elektronik dan cetak canggih perangkat keras seperti personal computer dan jaringan, offset, camera webs, telpon seluler, jaringan televise, DVD dsb.

5. Tumbuh bisnis informasi dan komunikasi dengan teknologi yang siap layan dengan mudah dan murah serta memenuhi kebutuhan konsumen, dll.

Strenghts (Kekuatan, Potensi)

  1. Masyarakat pendukung pendidikan Islam, umat Islam dominant dan panatik terhadap pendidik Islam tinggi
  2. Pengalaman besar dan sudah lama masanya eksis secara mandiri
  3. Lembaga pendidikan Islam beragam bentuk dan banyak jumlahnya
  4. SDM para pakar dan menejer pendidikan Islam banyak
  5. Sudah mempunyai sistim yang kuat
  6. Ada Departemen khusus memayunginya yakni Depatemen Agama
Strategi SO (Memanfaatkan Potensi untuk meraih peluang)1.   Memanfaatkan daya dukung umat Islam, pengalaman, SDM pakar dan payung Depang dalam penyelenggaraan sistim pendidikan merebut peluang sekolah bertaraf internasional.2.   Memproses secara maksimal input meraih peluang output sarjana muslim yang siap pakai akses pangsa pasar kerja

3.   Memberdayakan tenaga pendidik untuk meraih peluang guru berprestasi, sejahtera.

4.   Memfasilitasi penyelenggaraan sistem pendidikan dengan potensi anggaran besar tersedia untuk merebut peluang pendidikan yang maju dan modern.

Strategi ST (Memanfaatkan Potensi untuk menghadapi tantangan)1. Mengembangkan dukungan potensi pengalaman, pakar,  lembaga pendidikan yang maju sebagai contoh sukses akses informasi dan komunikasi sebagai kunci pembaharuan kea rah taraf innternasional.2. Merekrut potensi generasi muda Islam untuk dididik bebas dari pekat dan maksiat menjadi sarjana muslim yang kuat dengan pemanfaatan tekonologi canggih dengan benar dan pendukung belajar.

3. Memanfaatkan potensi wibawa guru berprestasi mengatasi lemahnya kinerja mengajar dan terkikisnya prilaku zuhud dengan memperluas jaringan informasi dan komunikasi media canggih.

4. Memanfaat potensi anggaran sekolah sebagai dana sharing donatur dan manajemen menghadapi kelembahan penyelenggaraan sistim  pendidikan agama dengan mempekuat sistim manajemen iformasi dan LAN berbasis Webset.

Weaknesses(Kelemahan)1.  Buta fungsional tak menguasai informasi dan lemah komunikasi

2.  Gagap teknologi canggih

3.  Sistim pendidikan (persoalan dikotomik pendidikan Islam, kurikulum, tujuan dan fungsi kelembagaan pendidikan Islam).

4.  Iklim budaya dan sikap mental mudah tergoda

Strategi WO ( Mengatasi kelemahan untuk meraih peluang)1.   Mengatasi kelemahan jaringan informasi dan mempersiapakan akreditasi kelembabagaan pendidikan Islam.2.   Mendidikan guru/ unsure pendidik dan penyelenggara sisitim pendidikan kearah kualitas yang ideal dengan pembekalan teknologi canggih

3.   Memperbaiki perencanaan out put dimulai dari perencanaan input dan proses didukung oleh kurikulum sejalan dengan tujuan dan fungsi ideal lembaga pendidikan.

4.  Memenej dana umat di samping penganggaran pemerintah yang besar untuk pendidikan dengan memperbaiki iklim budaya dan sikap mental para penyelenggara pendidikan dan stakeholdersnya.

Strategi WT (Meminimalkan kelemahan untuk bertahan dari ancaman)1. Meminimalisir kelemahan buta fungsional tak menguasai informasi dan komunikasi untuk merubah tantangan ICT modern maju.2. Meminimalisir kelemahan penguasaan teknologi untuk merubah tantangan tawaran empuk kemajuan ICT modern dan maju bagi kemajuan unsur pendidik dan penyelenggara untuk mengangkat imej sekolah maju dan bermartabat.

3. Menekan kelemahan perencanaan dan penyelenggaraan sistim pendidikan dengan membangun iklim akademik yang sehat dan sikap mental kondusif dengan didukung kemajuan ICT moder dan maju.

Dari matrik ini dapat dijelaskan:

1. Temuan dengan analisis strategi SO-ST SWOT dapat disimpulkan:

a. bahwa dengan memanfaatkan potensi untuk meraih peluang (SO) dapat dilakukan dengan (1) memanfaatkan daya dukung umat Islam, pengalaman, SDM pakar dan payung Depang dalam, (2) menyelenggaraan sistim pendidikan merebut peluang sekolah bertaraf internasional, (3) memproses secara maksimal input meraih peluang output sarjana muslim yang siap pakai akses pangsa pasar kerja, (4) memberdayakan tenaga pendidik untuk meraih peluang guru berprestasi, sejahtera, (5) memfasilitasi penyelenggaraan sistem pendidikan dengan potensi anggaran besar tersedia untuk merebut peluang pendidikan yang maju dan modern.

b. bahwa dengan memanfaatkan potensi untuk menghadapi tantangan (ST) dapat dilakukan: (1) mengembangkan dukungan potensi pengalaman, pakar,  lembaga pendidikan yang maju sebagai contoh sukses akses informasi dan komunikasi sebagai kunci pembaharuan kea rah taraf innternasional, (2) merekrut potensi generasi muda Islam untuk dididik bebas dari pekat dan maksiat menjadi sarjana muslim yang kuat dengan pemanfaatan tekonologi canggih dengan benar dan pendukung belajar, (3) memanfaatkan potensi wibawa guru berprestasi mengatasi lemahnya kinerja mengajar dan terkikisnya prilaku zuhud dengan memperluas jaringan informasi dan komunikasi media canggih, (4) memanfaat potensi anggaran sekolah sebagai dana sharing donatur dan manajemen menghadapi kelembahan penyelenggaraan sistim  pendidikan agama dengan mempekuat sistim manajemen iformasi dan LAN berbasis Webset.

2.     Temuan dengan analisis strategi WO-WT SWOT dapat disimpulkan:

a. bahwa mengatasi kelemahan untuk meraih peluang (WO) dapat dilakukan:

(1) mengatasi kelemahan jaringan informasi dan mempersiapakan akreditasi kelembabagaan pendidikan Islam, (2) mendidikan guru/ unsure pendidik dan penyelenggara sisitim pendidikan kearah kualitas yang ideal dengan pembekalan teknologi canggih, (3) memperbaiki perencanaan out put dimulai dari perencanaan input dan proses didukung oleh kurikulum sejalan dengan tujuan dan fungsi ideal lembaga pendidikan, (4) memenej dana umat di samping penganggaran pemerintah yang besar untuk pendidikan dengan memperbaiki iklim budaya dan sikap mental para penyelenggara pendidikan dan stakeholdersnya.

b. bahwa meminimalkan kelemahan untuk bertahan dari ancaman (WT) dapat dilakukan (1) meminimalisir kelemahan buta fungsional tak menguasai informasi dan komunikasi untuk merubah tantangan ICT modern maju, (2) meminimalisir kelemahan penguasaan teknologi untuk merubah tantangan tawaran empuk kemajuan ICT modern dan maju bagi kemajuan unsur pendidik dan penyelenggara untuk mengangkat imej sekolah maju dan bermartabat, (3) menekan kelemahan perencanaan dan penyelenggaraan sistim pendidikan dengan membangun iklim akademik yang sehat dan sikap mental kondusif dengan didukung kemajuan ICT moder dan maju.

IV.    PENUTUP

Dari paparan tadi, dapat ditarik kesimulan sejalan dengan permasalah yang dikemukakan sbb.:

Era globalisasi dalam perspektif kajian lingkungan strategis mempunyai peluang dan tantangan besar bagi pengembangan pendidikan Islam. Hanya saja secara internal pendidikan Islam kasus Indonesia masih memiliki kelemahan (weakness) yang mendasar dalam dukungan kebijakan meskipun sudah agak tertolong dengan UU 2/ 2004. Lemahnya kebijakan mendukung pendidikan Islam dikarenakan tidak kuat dan tidak banyak SDM umat Islam pembuat kebijakan di pemerintahan (pemerintah/ pemda/ eksekutif dan legislatif) meski pun potensi jumlah umat Islam besar dan dominant pada jumlah. Fenomena itu pertama disebabkan lembaga pendidikan Islam tidak banyak melahirkan pakar yang ahli dalam bidang public policy khususnya dan politik pada umumnya dan kedua yang mendapat kesempatan duduk di lembaga pemerintahan lemah pula visi, misi dan komitmen Islam, sehingga dalam perspektif pengalaman historis mudah dilumpuhkan pihak non Islam dalam persaingan politik dan misi keagamaan. Di sisi lain secara eksternal pada era globalisasi ini menyertai peluang (opportunities) globalisasi membonceng arus kuat paham dan kebudayaan barat (sekulerisme, hedonisme, liberalisme, rasionalisme, idealisme, materialisme, paham demokrasi, HAM, isu lingkungan  dan racun barat/ westoknisasi lainnya seperti istilah teroris yang dialamatkan kepada umat Islam bahkan disebut berbasis di ponpes. Semua kelemahan (Weakness) dan tantangan (Treaths) internal/ eksternal tadi kalau tidak kuat dan cerdas meresponnya secara strategis dapat melumpuhkan sendi-sendi kehidupan bahkan menenggelamkan “arus dalam” (nilai agama dan adat budaya lokal sebagai identitas nasional dan Islam) yang pada perinsipnya menjadi perjuangan pendidikan Islam.  Karenanya untuk merebut peluang (Opportunities) di era globalisasi dibutuhkan kemampuan dan kecerdasan memanfaatkan potensi (Strengths) SDM umat dan merebut peluang keberpihakan kebijakan (public policy) pendidikan Islam. Upaya prioritas merebut O/peluang sekaligus merubah T/ tantangan menjadi O/ peluang atau meminimalisir W/ kelemahan internal/ eksternal meraih O/peluang dan menekan ancaman T/ tantangan untuk memajukan pendidikan di era gloalisasi, dibutuhkan kecerdasan pemanfaatan S/ potensi daya dukung umat Islam dalam mengusahakan pengembangan pendidikan yang dibutuhkan umat dan bertaraf internasional sekaligus merebut O/ peluang daya dukungan politik Islam (bukan partai Islam urusan duniawi saja), iklim budaya, sikap mental komitmen Islam untuk melahirkan ahli yang siap menduduki dan mengisi birokrat lembaga pemerintahan (eksekutif dan legislative) pembuat kebjiakan pendidikan.

Akhirnya, sebagai rekomendasi disampaikan kepada para penyelenggara dan semua para pihak umat yang berkepentingan dalam sistim pendidikan Islam (leader, menejer, pakar, politisi dan stakeholders lainnya), diharapkan mampu merebut peluang posisi pembuat kebijakan (policy makers). Untuk dapat merebut posisi itu sediakan SDM yang ahli di bidangnya. Untuk melahirkan SDM yang ahli harus kembali ke pendidikan bukan ke partai politik Islam yang lebih didominasi oleh dunia politisi. Sekaligus manfaatkan peluang global dengan kemajuan informasi, komunikasi serta ipteknya untuk memperkuat posisi pendidikan Islam. Artinya kembali ke pendidikan didukung politik Islam memperkuat komitmen Islam melaksanakan visi-misi menguasai pembuatan kebijakan pendidikan yang berpihak dan menguntungkan umat dan pendidikannya.

DAFTAR PUSTAKA

Achmaduddin, Analisis Diklat Kualifikasi  Guru Pendidikan Agama SD dan SM (Edukasi, Jurnal Penelitian Pendidikan Agama dan Keagamaan, Vol.6 No.1 Jan-Maret 2008). Badan Litbang dan Diklat Depag RI, 2008

Al-’Ainain, Ali Khalil, Falsafat al-Tarbiyat al-Islamiyah fi l-Qur’an al-Karim. Al-Qahirah: Dar al-Fikr al-’Arabiy, 1980

Ahmed, Manzoor. 1990. Islamic Education. New Delhi: Qazi Publishers.

Asfar, Muhamad 1996. “Ulama dan Politik: Perspektif Masa Depan”, Ulumul Quran, 5(VI).

Al-Ba’albaki, Munir, Al-Maurid A Modern English – Arabic Dictionary. Dar l-‘Ilmi lil-Malayin. Bairut, 1979.

Brown, Chip, “The Science Club Serves its Country” dalam Esquire, December 1994. Cairns, E. 1990. “Impact of Television News Exposure on Children’s Perceptions of Violence in Northern Ireland”, Journal of Social Psychology.

Conway, M.M., Stevens, A.J. & Smith, R.G., 1975. “The Relation between Media Use and Children’s Civic Awareness”, Journalism Quarterly.

Durkin, K. 1985. Television, Sex-roles and Children. Milton Keynes: Open University Press.

Earl, R.A. & Pastermack, S. 1991. “Television Weather Casts and their Role in Geographic Education”, Journal of Geography.

Faruqi, Isma’il al- 1987. “Foreword”. dalam Akbar S. Ahmed. Toward Islamic Anthropology: Definition, Dogmaand Directions, Lahore: TP.

Francis, Leslie J. 1997. “The Socio-psychological Profile of the Teenage Television Addict” dalam The MuslimEducation Quarterly, 1 (15).

Fatih, A. Syuhud,, 2008, Pendidikan Islam di era Globalisasi, dalam jurnal pemikiran alternatif pendidikan P3M STAIN Purwokerto, Vol. 13|No. 1|Jan-Apr 2008|26-40.

Federspiel, Howard M. 1995. “Pesantren” dalam Esposito, J.L. The Oxford Encyclopedia of Modern Islamic World. London: Oxford University Press, Vol. 3.

Gould, M.S. & Shaffer, D. 1986. “The Impact of Suicide in Television Movies”, New England Journal of Medicine, 315.

Furnham, A. & Gunter, B. 1983. “Political Knowledge and Awareness in Adolescent”, Journal of Adolescence, 6.

Gunter, B. 1984. “Television as Facilitator of Good Behaviour among Children”, Journal of Moral Education, 13.

Hawi, Akmal. 2005. Kapita Selekta Pendidikan Islam. Palembang : IAIN Raden Fatah Press.

Huesman, L.R. & Eron, L.D. (Eds.) 1986. Television and the Aggressive Child: A cross-national comparison.

Hillsdale, New Jersey, Erlbaum.

Hegell, A & Newburn, T. 1996. “Comparison of the Viewing Habits and Preferences of Young Offenders and Representative Shool Children”, Pastoral Care, 14, 1.

Hiesberger, J.M. 1981. “The Ultimate Challenge to Religious Education” dalam Religious Education, 76 (4).

Hendry, L.B. & Thornton, D.J.E. 1976. “Games Theory, Television and Leisure: an Adolescent Study,” dalam British Journal of Social and Clinical Psychology, 15.

Khan, Sharif. 1986. Islamic Education. New Delhi: Ashish Publishing House.

___. 1997. Some Aspects of Islamic Education. Ambala Cantt. (India): Associated Publishers.

Khusro, Syed Ali Muhammad. 1981. “Education in Islamic Society” dalam Khan, Muhammad Wasiullah. Education and Society in the Muslim World. Jeddah: Hodder & Stoughton – King Abdulaziz University.

Natawidjaja, Rochman, dkk., ed., Rujukan Filsafat, Teori dan Praksis Pendidikan Islam. Bandung: UPI Press, 2007

Ramayulis, dkk., Filsafat Pendidikan Islam: Telaah Sistem Pendidikan dan Pemikiran para Tokohnya. Kalam Mulia: Jakarta, 2006

Rosenbaum, Ron. 1995. “Even the Wife of the President of the United States had to Stand Naked”, The Independent, 21 January, cetak ulang dari kisah dalam The New York Times.

Selnow, G.A. & Reynolds, H. 1984. “some Opportunity Costs of Television Viewing”, Journal of Broadcasting, 28.

Silverman-Watkins, L.T. & Sprafkin, J.N. 1983. “Adolescent’ Comprehension of televised Sexual Innuendos”, dalam Journal of Applied Developmental Psychology, 4.

Sheehan, P.W. 1983. ”Age Trends and Correlats of Children’s Television Viewing”, dalam Australian Journal of Psychology, 35.

Tidhar, C.E. & Peri, S. 1990. “Deceitful behaviour in Situation Comedy: Effects on Children’s Perceptions of Social Reality”, dalam Journal of Educational television, 16.

Tan, A.S. 1979. “Television Beauty Ads and Role Expectations of Adolescent Female Viewers”, dalam Journalism Quarterly, 56.

Telfer, R.J. & Kann, R.S. 1984. “Reading Achievement, Free reading, Watching TV, and Listening to Music”, Journal of Reading, 27.

UNESCO. 1996. dalam Jawed, Muhammad, (Ed.) Year Book of the Muslim World: A Handy Encyclopaedia. New Delhi: Medialine.

Wiegman, O., Kuttschreuter, M. & Baarda, B. 1992. “A Longitudinal Study of the Effects of Television Viewing on Aggressive and Prosocial Behaviors”, dalam A British Journal of Social Psychology, 31.

Young, Robert. 1997.“Science is Social Relations”, dalam Radical Science Journal,5.

Wikipedia, Pendidikan Perennialism. Wikipedia on line : 2009

Zuckerman, D.M., Singer, D.G. & Singer J.L. 1980. “Children’s Television Viewing, Racial and Sex-role Attitude”, dalam Journal of applied Social Psychology, 10


[1]Makalah tugas kuliah Yulizal Yunus, Mahasiswa Program Doktor (S-3) dalam mata kuliah “Filsafat Pendidikan Islam” di bawah bimbingan Prof. Dr. Ramayulis, dipresntasikan dalam seminar PBM Sabtu, 2 Januari 2010 di PPs. IAIN Imam Bonjol Padang.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

%d bloggers like this: